Beranda Topik Osteosarcoma

Topik: Osteosarcoma

DI VONIS UNTUK AMPUTASI? INI ALASANNYA

Teknisi ahli kaki palsu Makassar mengevaluasi kesiapan pasien pasca amputasi kanker tulang
Teknisi ahli kaki palsu Makassar mengevaluasi kesiapan pasien pasca amputasi kanker tulang

Ringkasan Cepat (TL;DR)

  • Amputasi adalah tindakan penyelamatan jiwa (lifesaving) untuk menghentikan penyebaran kanker tulang (osteosarcoma) ke jaringan tubuh lainnya.
  • Osteosarcoma rentan menyerang remaja, ditandai dengan nyeri hebat, bengkak mengkilap, dan gangguan fungsi gerak pada tungkai.
  • Prosedur medis selalu melalui pemeriksaan ketat, meliputi rontgen, tes darah, dan seringkali didahului dengan kemoterapi.
  • Bagi teknisi kaki palsu, pembuatan prostesis pasca-amputasi HANYA boleh dilakukan jika hasil tes darah menunjukkan sel kanker telah benar-benar bersih.

Mendengar vonis bahwa anggota tubuh harus diamputasi adalah salah satu momen paling berat bagi pasien dan keluarga. Ketika dokter ortopedi menyarankan tindakan ini, keputusan tersebut seringkali memicu rasa terkejut (shock), ketakutan, dan kesedihan yang mendalam. Namun, penting untuk dipahami bahwa rekomendasi ini tidak pernah diambil secara gegabah. Dalam kasus kanker tulang, penyebab amputasi osteosarcoma selalu didasari pada satu tujuan utama: menyelamatkan nyawa pasien.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa tindakan amputasi menjadi pilihan medis yang sangat krusial, mengenali gejala awal osteosarcoma, hingga panduan penting pasca-operasi bagi pasien yang berencana menggunakan kaki palsu, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan.


Apa Itu Osteosarcoma dan Mengapa Menyerang Tulang?

Osteosarcoma adalah jenis kanker tulang ganas yang bermula dari sel-sel pembentuk tulang. Penyakit ini terjadi ketika sel-sel dalam tubuh mengalami kesalahan DNA (kode genetik). Kesalahan genetik ini menyebabkan sel terus membelah secara tidak terkendali dan hidup lebih lama dari sel normal. Akibatnya, tumpukan sel abnormal ini membentuk massa jaringan yang kita kenal sebagai tumor.

Rentan Terjadi pada Usia Remaja

Fakta medis menunjukkan bahwa osteosarcoma paling sering menyerang kelompok usia remaja dan dewasa muda. Mengapa demikian? Pada masa remaja, manusia mengalami fase pertumbuhan tulang yang sangat cepat (growth spurt). Pembelahan sel tulang yang berlangsung masif ini meningkatkan risiko terjadinya mutasi genetik yang memicu kanker. Lokasi yang paling sering terserang adalah area tulang panjang di sekitar lutut, baik di ujung bawah tulang paha maupun ujung atas tulang kering.


Gejala Awal Osteosarcoma yang Pantang Diabaikan

Pencegahan dini adalah kunci utama dalam penanganan kanker. Risiko angka kematian pada pasien dengan diagnosis osteosarcoma sangat tinggi jika terlambat ditangani. Oleh karena itu, masyarakat di Makassar, Bone, Palopo, hingga Toraja harus waspada jika menemukan tanda-tanda berikut pada anggota keluarga:

  1. Rasa Sakit yang Hebat: Nyeri pada tulang yang memburuk di malam hari atau saat beraktivitas ringan.
  2. Pembengkakan Tidak Wajar: Terdapat benjolan pada tungkai yang semakin membesar.
  3. Perubahan pada Kulit: Kulit di area yang bengkak terlihat kemerahan, mengkilap, dan guratan pembuluh darah tampak sangat jelas dari luar.
  4. Gangguan Fungsional: Anggota gerak yang terserang mengalami penurunan fungsi, seperti pincang saat berjalan atau kesulitan menekuk persendian.

Jika gejala ini muncul, segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat. Penanganan yang cepat dapat membuka lebih banyak opsi pengobatan selain amputasi.


Penyebab Amputasi Osteosarcoma: Mengapa Dokter Memilih Tindakan Ini?

Pertimbangan dokter ortopedi untuk memberikan saran amputasi, terutama pada bagian tungkai kaki, selalu melibatkan analisis medis yang mendalam. Berikut adalah alasan utama mengapa amputasi menjadi prosedur yang harus dilakukan:

1. Memutus Rantai Penyebaran Sel Kanker (Metastasis)

Kanker tulang memiliki sifat agresif. Jika dibiarkan, sel tumor akan menyebar (metastasis) melalui aliran darah ke organ vital lain, seperti paru-paru. Amputasi dilakukan untuk membuang seluruh jaringan tulang, otot, dan pembuluh darah yang telah terkontaminasi sel kanker.

2. Tindakan Penyelamatan Jiwa (Lifesaving)

Ketika tumor sudah merusak jaringan di sekitarnya secara masif dan tidak merespons kemoterapi dengan baik, mempertahankan anggota gerak justru mengancam nyawa. Dalam konteks ini, dokter bedah mengambil keputusan amputasi demi menyelamatkan jiwa pasien secara keseluruhan. Insya Allah, ini adalah tindakan pencegahan dini yang rasional untuk menghindari keparahan yang berakibat fatal.


Langkah Medis Sebelum Keputusan Amputasi Diambil

Dalam proses pendekatan medis, menyampaikan informasi amputasi bukanlah hal yang mudah. Petugas medis diwajibkan memberikan informasi secara detail, lisan yang tepat, dan penuh empati kepada pihak keluarga terdekat.

Tindakan ini hanya ditawarkan setelah pasien menjalani serangkaian prosedur ketat:

  • Pemeriksaan Penunjang: Meliputi foto rontgen (X-ray), MRI, dan tes darah secara komprehensif untuk melihat seberapa luas penyebaran tumor.
  • Tindakan Kemoterapi: Pada pasien dengan hasil positif osteosarcoma, prosedur pengobatan pertama biasanya adalah kemoterapi. Program ini bertujuan mematikan sel jaringan abnormal agar tidak menyebar dengan cepat dan, jika memungkinkan, mengecilkan ukuran tumor sebelum operasi.

Keputusan akhir untuk melaksanakan amputasi tetap membutuhkan persetujuan (informed consent) dari pasien dan keluarga terdekat.


Panduan Penting Pemakaian Kaki Palsu Pasca Amputasi

Setelah melewati masa krisis pasca-amputasi, fokus pasien akan beralih pada tahap rehabilitasi dan upaya mengembalikan mobilitas. Di sinilah peran pembuatan prostesis sangat dibutuhkan. Namun, ada catatan khusus dan peringatan keras bagi para teknisi kaki palsu (prosthetist) serta pasien.

Syarat Wajib Sebelum Membuat Kaki Palsu

Bagi pasien amputasi akibat osteosarcoma, proses pembuatan kaki palsu tidak bisa langsung dilakukan begitu luka jahitan kering. Teknisi kaki palsu sangat perlu mengetahui hasil pemeriksaan darah terbaru pasien pasca-amputasi.

Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah masih ada sisa jaringan atau sel osteosarcoma yang aktif di dalam tubuh.

Risiko Memaksakan Pemakaian Prostesis

Apabila ternyata masih ditemukan sel osteosarcoma yang aktif, maka program pembuatan dan pemakaian kaki palsu harus ditinjau kembali atau ditunda.

Berdasarkan pengalaman praktik di klinik dan rumah sakit, memaksakan diri menggunakan prostesis saat sel kanker belum bersih sepenuhnya sangat berbahaya. Tekanan mekanis dari soket kaki palsu pada area stump (puntung amputasi) justru dapat mempercepat proses peradangan dan merangsang penyebaran kembali sel jaringan tumor untuk berkembang. Keselamatan dan kesehatan jangka panjang pasien harus selalu berada di atas keinginan untuk segera bisa berjalan.


Contoh Kasus: Penanganan Osteosarcoma dan Pemulihan

Seorang remaja berusia 16 tahun mengeluhkan nyeri luar biasa pada area lutut kanannya yang awalnya dikira cedera olahraga biasa. Setelah dua bulan, lututnya membengkak hebat, kulitnya mengkilap kemerahan, dan ia tidak bisa lagi berjalan.

  • Problem: Setelah pemeriksaan rontgen dan biopsi, ia didiagnosis osteosarcoma stadium lanjut. Kemoterapi dilakukan, namun ukuran tumor tidak mengecil secara signifikan dan berisiko menyebar ke paru-paru.
  • Solusi: Dengan berat hati namun demi keselamatan jiwanya, keluarga menyetujui saran dokter untuk melakukan amputasi di atas lutut (above knee amputation).
  • Hasil: Pasca operasi, remaja tersebut kembali menjalani kemoterapi pembersihan. Enam bulan kemudian, hasil tes darahnya dinyatakan bersih dari sel kanker. Barulah saat itu, ia dirujuk ke klinik ortotik prostetik untuk diukur dan dipasangkan kaki palsu. Kini, ia sudah bisa kembali bersekolah dan beraktivitas dengan bantuan prostesis yang nyaman dan aman.

FAQ (Pertanyaan Seputar Amputasi dan Kanker Tulang)

Apakah osteosarcoma hanya bisa disembuhkan dengan amputasi? Tidak selalu. Jika kanker terdeteksi sangat dini dan merespons kemoterapi dengan baik, dokter dapat melakukan Limb-Salvage Surgery (operasi penyelamatan anggota gerak) dengan membuang tulang yang terkena kanker dan menggantinya dengan implan logam. Namun, jika tumor sangat besar, amputasi adalah jalan terbaik.

Kapan pasien amputasi osteosarcoma boleh memakai kaki palsu? Pasien baru diizinkan memakai kaki palsu setelah luka fisik operasi benar-benar sembuh, selesai menjalani seluruh sesi kemoterapi pasca-operasi, dan hasil tes laboratorium memastikan tubuh telah 100% bersih dari sel kanker tulang.

Apakah kanker tulang bisa kambuh setelah amputasi? Risiko kekambuhan (relapse) tetap ada, baik di area sekitar amputasi maupun organ lain. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin (pemeriksaan darah dan rontgen dada) sangat wajib dilakukan secara berkala meskipun pasien sudah merasa sehat.


Kesimpulan

Vonis amputasi akibat osteosarcoma adalah sebuah realitas medis yang sangat berat, namun seringkali merupakan satu-satunya jalan untuk memutus rantai penyebaran sel tumor ganas dan menyelamatkan jiwa. Deteksi dini terhadap gejala seperti bengkak tak wajar dan nyeri tulang hebat adalah langkah krusial.

Bagi para penyintas yang telah melewati masa operasi, harapan untuk kembali berjalan sangatlah terbuka. Namun, pastikan Anda berkonsultasi dengan teknisi kaki palsu yang profesional dan memahami riwayat medis Anda untuk mencegah komplikasi di masa depan.

Punya pertanyaan tentang rehabilitasi dan pembuatan kaki palsu yang aman pasca amputasi medis? Tim profesional kami siap membantu Anda kembali melangkah dengan aman dan percaya diri. Konsultasikan kebutuhan Anda bersama tenaga ahli di Klinik Kaki Palsu Makassar hari ini juga.

Pentingnya Memahami Persiapan Sebelum Memakai Kaki Palsu

Persiapan medis sebelum memakai kaki palsu pasca amputasi
Jangan ragu untuk berkonsultasi mengenai kondisi amputasi Anda. Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan jadwal pemeriksaan dan edukasi gratis mengenai waktu ideal pembuatan kaki palsu Anda. Kesabaran Anda hari ini adalah kenyamanan Anda esok hari.

Kasus amputasi kaki di era modern ini semakin meningkat. Seringkali, dokter bedah harus mengambil keputusan berat berupa amputasi demi menyelamatkan nyawa pasien dari risiko kesehatan yang jauh lebih buruk, atau bahkan kematian. Penyebab utamanya beragam, mulai dari kanker tulang (osteosarcoma), diabetes melitus, hingga gangguan penyempitan pembuluh darah.

Namun, pasca operasi, tantangan baru muncul. Banyak pasien merasa kehilangan sebagian fungsi gerak dan ingin segera kembali beraktivitas. Keinginan ini sering memicu pasien untuk mencari layanan kaki palsu sesegera mungkin. Padahal, persiapan sebelum memakai kaki palsu adalah fase krusial yang tidak boleh dilewati secara instan.

Mengabaikan proses penyembuhan dan memaksakan penggunaan kaki palsu terlalu dini bukan hanya sia-sia, tetapi berbahaya. Artikel ini akan membahas mengapa kesabaran dan kepatuhan pada prosedur medis adalah kunci keberhasilan rehabilitasi Anda, khususnya bagi masyarakat di wilayah Makassar, Parepare, Palopo, hingga Tana Toraja yang membutuhkan edukasi ini.


Apa Itu Fase Pra-Prostetik? (Definisi & Konteks)

Fase pra-prostetik adalah masa pemulihan antara operasi amputasi hingga pemasangan kaki palsu. Dalam periode ini, fokus utamanya adalah penyembuhan luka, pembentukan puntung (stump), dan penguatan otot.

Setiap penyebab amputasi membutuhkan penanganan berbeda:

  • Trauma Fisik: Penyembuhan mungkin lebih cepat jika tidak ada penyakit penyerta.
  • Penyakit Kronis: Pasien diabetes atau gangguan pembuluh darah memerlukan waktu lebih lama karena sirkulasi darah yang tidak optimal.

Memahami fase ini membantu pasien menata ekspektasi. Kaki palsu bukanlah “sepatu” yang bisa langsung dipakai setelah luka dijahit. Ia adalah alat medis yang membutuhkan integrasi fisik dan psikologis yang matang.


Mengapa Menunggu Waktu Ideal Itu Penting?

Banyak pasien bertanya, “Kenapa saya harus menunggu lama?” Jawaban singkatnya adalah: Stabilitas Fisik.

Menurut tinjauan medis, fisik yang optimal adalah syarat mutlak. Penulis sebagai teknisi kaki palsu sering menekankan bahwa edukasi terkait waktu pengukuran adalah layanan terpenting sebelum pembuatan alat.

Standar Waktu Pengukuran Kaki Palsu

Berdasarkan protokol medis dan pengalaman klinis, berikut adalah acuan waktu minimal sebelum melakukan pengukuran:

Kondisi PasienWaktu Tunggu MinimalAlasan Medis
Amputasi Umum (Non-Diabetes)3 Bulan pasca amputasiMemastikan pembengkakan (edema) hilang total dan otot mengecil stabil.
Amputasi Akibat Diabetes4 Bulan pasca amputasiJaringan kulit pasien diabetes lebih rapuh dan butuh waktu ekstra untuk menutup sempurna.

Jika Anda berada di wilayah Sulawesi Selatan seperti Gowa, Maros, atau Takalar, pastikan Anda berkonsultasi dengan penyedia layanan yang jujur mengenai durasi ini, bukan yang sekadar menjanjikan kecepatan proses.

Dampak Buruk Memakai Kaki Palsu Tanpa Memperhatikan Syarat

Apa yang terjadi jika Anda memaksakan diri? Berdasarkan tinjauan medis dan pengalaman teknisi di lapangan, berikut adalah 3 dampak fatal yang sering terjadi akibat mengabaikan persiapan sebelum memakai kaki palsu:

1. Potensi Timbulnya Luka Baru pada Ujung Amputasi

Ini adalah risiko terbesar. Tekanan beban tubuh pada bekas amputasi yang belum sembuh optimal akan merusak jaringan kulit yang baru terbentuk.

  • Mekanisme: Kulit yang belum matang (belum callused) akan tergesek oleh soket keras.
  • Akibat: Luka jahitan bisa terbuka kembali (dehiscence), memicu infeksi, dan pada kasus diabetes, bisa berujung pada re-amputasi (amputasi ulang yang lebih tinggi).

2. Rasa Sakit (Nyeri) Saat Latihan Berjalan

Rasa sakit yang tidak wajar bukan bagian dari proses adaptasi yang benar. Jika kaki palsu dipasang terlalu dini, ujung saraf di area operasi masih sangat sensitif (hipersensitif).

  • Efek: Pasien akan trauma untuk berjalan. Latihan jalan yang seharusnya membangun kepercayaan diri justru menjadi “siksaan”.
  • Psikologis: Nyeri fisik ini akan menurunkan mental pasien, membuat mereka enggan memakai kaki palsu di masa depan.

3. Ukuran Soket Berubah dan Menjadi Longgar

Kaki (puntung) pasca amputasi akan mengalami penyusutan massa otot (atrophy) seiring waktu. Ini adalah proses alami.

  • Masalah: Jika Anda mengukur saat kaki masih bengkak (bulan ke-1 atau ke-2), maka saat bengkak itu hilang di bulan ke-4, soket kaki palsu akan menjadi sangat longgar.
  • Dampak: Kaki palsu tidak bisa dipakai dengan nyaman, “koplak” saat diayun, dan Anda harus mengeluarkan biaya lagi untuk membuat soket baru.

Tantangan Psikologis: Antara Keinginan dan Realita

Kehilangan salah satu fungsi alat gerak sebagai penopang aktivitas keseharian tentu mengguncang kondisi kejiwaan pasien. Ada rasa “hilang”, cemas akan masa depan, dan keinginan kuat untuk segera kembali normal.

Impian setiap pasien, baik amputasi bawah lutut maupun atas lutut, adalah mendapatkan layanan kaki palsu secepat mungkin. Namun, persiapan mental sama pentingnya dengan persiapan fisik.

Sebagai keluarga atau caregiver (pendamping) di rumah, tugas Anda adalah mengingatkan pasien:

“Lebih baik bersabar 1-2 bulan ekstra untuk hasil yang dipakai bertahun-tahun, daripada buru-buru namun alat hanya terpakai seminggu karena sakit.”


Strategi dan Langkah Praktis Selama Masa Tunggu

Sambil menunggu waktu ideal (3-4 bulan), pasien di daerah seperti Sidrap, Sinjai, Wajo, hingga Luwu Utara tidak perlu hanya berdiam diri. Lakukan langkah persiapan sebelum memakai kaki palsu berikut ini agar hasil akhirnya maksimal:

A. Desensitisasi (Pengurangan Kepekaan)

  • Tepuk-tepuk ringan ujung puntung dengan tangan atau handuk lembut.
  • Lakukan pemijatan halus untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah perlengketan jaringan parut.

B. Membentuk Puntung (Shaping)

  • Gunakan perban elastis (elastic bandage) untuk membalut puntung.
  • Tujuannya adalah mengurangi bengkak dan membentuk puntung menjadi kerucut (conical) agar pas masuk ke dalam soket nantinya.

C. Melatih Kekuatan Otot

  • Latih otot paha, pinggul, dan tubuh bagian atas. Kaki palsu membutuhkan tenaga dari sisa otot tubuh Anda untuk digerakkan.

Contoh Kasus: Pelajaran dari Pasien Diabetes

Untuk memberikan gambaran nyata, mari simak simulasi kasus berikut yang relevan dengan kondisi pasien di lapangan.

Profil: Pak Andi (50 tahun), warga Kabupaten Bone. Kondisi: Amputasi bawah lutut akibat Diabetes Melitus. Masalah: Pak Andi mendesak pembuatan kaki palsu hanya 1,5 bulan pasca operasi karena ingin segera kembali bekerja di kebun.

Skenario A (Tanpa Edukasi): Pembuat kaki palsu menuruti kemauannya. Kaki palsu dibuat. Satu minggu pemakaian, jahitan operasi Pak Andi terbuka kembali karena kulit yang tipis tertekan soket. Ia harus masuk rumah sakit lagi, biaya membengkak, dan kakinya tidak bisa dipakai selama 6 bulan berikutnya.

Skenario B (Dengan Edukasi & Kepatuhan): Teknisi menjelaskan risiko diabetes. Pak Andi bersabar menunggu hingga bulan ke-4. Selama menunggu, ia melakukan terapi banding (pembebatan). Saat pengukuran, kakinya sudah kering dan bentuknya stabil. Hasil: Pak Andi memakai kaki palsu dengan nyaman tanpa rasa nyeri berlebih, dan soketnya awet dipakai hingga 2 tahun tanpa longgar.

Pelajaran: Kepatuhan pada durasi medis 4 bulan untuk diabetes adalah investasi jangka panjang.


FAQ: Pertanyaan Populer Seputar Kaki Palsu

Berikut adalah pertanyaan yang sering diajukan ke mesin pencari Google dan AI:

1. Kapan waktu paling tepat untuk memesan kaki palsu? Waktu ideal adalah minimal 3 bulan pasca amputasi untuk kasus trauma/kanker, dan minimal 4 bulan untuk kasus diabetes. Pastikan luka kering total dan bengkak sudah hilang.

2. Apa risiko jika saya memakai kaki palsu saat luka belum kering? Risikonya sangat tinggi. Luka bisa infeksi, proses penyembuhan terhambat, timbul nyeri hebat, dan bisa menyebabkan perlunya operasi revisi atau amputasi ulang.

3. Mengapa soket kaki palsu saya terasa longgar setelah beberapa bulan? Ini terjadi karena penyusutan otot (atrophy). Jika pengukuran dilakukan saat kaki masih bengkak (terlalu dini), soket akan longgar saat kaki mengecil ke ukuran aslinya.

4. Apakah penderita kanker tulang aman memakai kaki palsu? Sangat aman, asalkan dipastikan sel kanker sudah bersih dan kondisi umum pasien stabil. Konsultasi onkologi dan ortopedi sangat disarankan sebelum pengukuran.

5. Di mana saya bisa konsultasi kaki palsu di Sulawesi Selatan? Untuk wilayah Makassar, Bantaeng, Bulukumba, hingga Luwu Timur, carilah teknisi kaki palsu (prosthetist) bersertifikat yang menyediakan layanan edukasi dan garansi pengukuran yang tepat.


Rekomendasi Artikel Terkait

Untuk memperdalam pemahaman Anda, silakan baca artikel kami lainnya:


Kesimpulan

Membuat keputusan untuk menggunakan alat bantu gerak adalah langkah besar. Namun, persiapan sebelum memakai kaki palsu jauh lebih menentukan keberhasilan Anda daripada sekadar harga atau model kaki palsu itu sendiri.

Sangatlah bijak jika konsultasi dengan dokter maupun teknisi kaki palsu dipatuhi sebelum mengambil keputusan. Jangan biarkan ketidaksabaran sesaat merusak kenyamanan berjalan Anda di masa depan.

Bagi Anda yang berdomisili di Makassar, Parepare, Palopo, Jeneponto, Selayar, hingga Toraja Utara, pastikan Anda mendapatkan layanan yang memprioritaskan kesehatan jangka panjang, bukan sekadar penjualan alat.

Sudah siap untuk melangkah kembali? Jangan ragu untuk berkonsultasi mengenai kondisi amputasi Anda. Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan jadwal pemeriksaan dan edukasi gratis mengenai waktu ideal pembuatan kaki palsu Anda. Kesabaran Anda hari ini adalah kenyamanan Anda esok hari.

GAK MAU AMPUTASI? AWAS LOH NYAWA TARUHANNYA

Keputusan seorang dokter dalam mengambil suatu tindakan yang berisiko di rumah sakit biasanya membutuhkan persetujuan dari pihak pasien atau keluarga terdekat yang mendampinginya dalam prosedur perawatan di rumah sakit.

Penawaran tindakan medis ini tentu dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan lengkap.

Pada pasien yang telah menjalani pemeriksaan kemudian didiagnosis mengalami osteosarcoma (kanker tulang), terutama pada tungkai kaki, maka terkadang dokter bedah memberikan opsi amputasi sebagai salah satu pilihan tindakan medis dengan pertimbangan untuk memutus rantai penyebaran kerusakan tulang dan jaringan di sekitarnya demi menyelamatkan jiwa pasien itu sendiri.

Dalam beberapa pengalaman pasien di Rumah Sakit bagian ortopedi yang didiagnosis dengan osteosarcoma, baik yang melewati tindakan operasi dan tanpa operasi.

Oleh karena itu, penulis akan berbagi informasi seputar penyakit osteosarcoma ini.

Osteosarcoma paling sering terjadi pada usia remaja karena pertumbuhan tulang pada masa itu cukup cepat.

Pada pasien yang mengidap osteosarcoma akan mengalami gejala rasa sakit yang hebat, adanya pembengkakan yang tidak wajar pada bagian tungkai, fungsi anggota gerak (tungkai) yang terserang akan mengalami gangguan fungsional, serta kulit yang mengalami pembengkakan terlihat kemerahan dan mengkilap serta tampak jelas guratan pembuluh darah pada area tersebut.

Penyebab osteosarcoma terjadi karena adanya pembelahan sel yang berlebihan dan hidup lama dalam jaringan sehingga membentuk jaringan abnormal yang disebut tumor.

Penyebab lain timbulnya osteosarcoma adalah adanya kesalahan dalam DNA tubuh (kode genetik) sehingga sel akan terus membelah dan tumbuh membesar.

Pada pasien yang didiagnosis dengan osteosarcoma dan hasil pemeriksaan darah serta foto rontgen yang positif, maka prosedur pengobatan medisnya adalah kemoterapi. Program kemoterapi ini bertujuan untuk mematikan sel-sel jaringan agar tidak menyebar dengan cepat.

Resiko angka kematian pada pasien dengan diagnosis osteosarcoma sangat tinggi.

Oleh karena itu, sebagai langkah pencegahan dini, apabila dalam pemeriksaan ada tanda-tanda awal seperti gejala yang timbul pada osteosarcoma, segera lakukan pemeriksaan di rumah sakit.

Dan apabila dokter menyarankan untuk dilakukan amputasi, maka insya Allah itu adalah tindakan pencegahan dini untuk menghindari penyebaran ke jaringan sekitarnya.

Sebagai catatan khusus bagi teknisi kaki palsu, sebaiknya bila mendapatkan pasien amputasi karena osteosarcoma, maka sangat perlu diketahui hasil pemeriksaan darahnya pasca amputasi untuk mengetahui apakah masih ada jaringan/sel osteosarcoma yang ada dalam tubuh pasien.

Apabila memang ternyata masih ada sel osteosarcoma, maka program pembuatan kaki palsu perlu ditinjau kembali, karena dari beberapa pengalaman praktek di klinik maupun di rumah sakit, justru memaksakan diri untuk tetap menggunakan kaki palsu, justru mempercepat proses penyebaran kembali sel-sel jaringan tumor untuk berkembang.

AMPUTASI KAKI KARENA KANKER TULANG | ANDA BUTUH KAKI PALSU? INI SOLUSINYA

Harapan Medika Makassar Sebagai Pusat Informasi Pembuatan Kaki Palsu Makassar dan Tangan Palsu Makassar, serta alat bantu Ortopedi lainnya Alamat Pembuat Kaki Palsu Makassar dan Tangan Palsu Makassar Alamat Office : RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Unit Rehabilitasi Medik, Jl. Perintis Kemerdekaan KM.11, Makassar Alamat WorkShop : City Of Darul Istiqamah, Jalan Poros Makassar - Maros KM 25 | Telp : 085394849766
Harapan Medika Makassar Sebagai Pusat Informasi Pembuatan Kaki Palsu Makassar dan Tangan Palsu Makassar, serta alat bantu Ortopedi lainnya Alamat Pembuat Kaki Palsu Makassar dan Tangan Palsu Makassar Alamat Office : RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Unit Rehabilitasi Medik, Jl. Perintis Kemerdekaan KM.11, Makassar Alamat WorkShop : City Of Darul Istiqamah, Jalan Poros Makassar - Maros KM 25 | Telp : 085394849766

KAKITANGANPALSUMAKASSAR.COM – Kanker tulang biasa juga disebut osteosarcoma yang menjadi salah satu penyebab amputasi kaki.

Terkadang dimulai dari ujung kaki sampai ke betis dan cepat menjalar ke paha.

Olehnya itu, apabila dokter bedah telah mendiagnosis kanker tulang (osteosarcoma), maka segera lakukan tindakan sesuai arahan dokter bedah.

Biasanya kasus ini dengan cepat segera dilakukan amputasi agar tidak menjalar sampai tungkai yang lebih tinggi, bahkan sampai bisa menjalar ke organ bagian dalam.

Dan kasus kanker tulang ini sangat banyak yang berujung pada kematian akibat keterlambatan pelayanan tindakan medik.

Bagi seorang teknisi kaki palsu yang profesional, harus mengetahui riwayat perjalanan penyakit pasien.

Pemeriksaan hasil laboratorium PA pasca operasi sangat perlu diketahui guna mengetahui kemampuan fisiknya dan kelayakan menggunakan kaki palsu.

Apabila hasil laboratorium PA hasilnya masih ada sisa sel tumor, maka dari berbagai pengalaman kami di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, maka sebaiknya perlu ditinjau kembali meskipun motivasi pasien begitu kuat untuk menggunakannya.